Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

e-ISSN: 2548-1398

Vol. 6, No. 9, September 2021

 

IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH TINGKAT SMA DALAM PENGELOLAAN MANAJEMEN MUTU-ISO 9001:2008

 

Fauzia Damas Nungkiastuti, Amie Kusumawardhani

Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang Jawa Tengah, Indonesia

Email: uzifauzia@yahoo.co.id, amiekusumawardhani@lecturer.undip.ac.id

 

Abstrak

Peningkatan mutu suatu lembaga sangatlah penting untuk keberlangsungan sistem manajemen yang berada di dalam suatu lembaga tersebut. Lembaga pendidikan juga memperhatikan dalam peningkatan kualitas mutu sekolah melalui implementasi manajemen ISO 9001: 2008. Maka dari itu rumusan masalah dari penelitian ini adalah apakah implementasi kebijakan manajemen ISO 9001:2008 terhadap manajemn mutu di SMA Kota Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak ISO dalam pengelolaan mutu pada faktor kebijakan sekolah, Sumber Daya Manusia, Gaya kepemimpinan dan dampak ISO itu sendiri terhadap perkembangan mutu manajemen sekolah. Berdasarkan metode, Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Berdasarkan tujuan, penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode gabungan yaitu; wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dampak implementasi kebijakan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 yang di gabungkan dengan manejemen berbasis sekolah terdapat peningkatan mutu di SMA MTA Surakarta. Peningkatan tersebut berdampak pada manajemen mutu sekolah, yaitu; 1) administrasi, 2) sarana dan prasarana, 3) SDM Pengajar dan tenaga kependidikan. Karena adanya sistem manajemen berbasis sekolah yang memberikan otoritas terhadap sekolah untuk membuat kebijakan secara mandiri tapi juga berpedoman pada kebijakan dari Kemendikbud. Karena adanya implementasi ISO 9001:2008 juga memberikan sebuah branding terhadap sekolah serta berdampak pada standarisasi dalam akreditasi sekolah.

 

Kata Kunci: implementasi ISO 9001:2008; peningkatan mutu sekolah

 

Abstract

Improving the quality of an institution is very important for the sustainability of the management system within an institution. Educational institutions also pay attention to improving the quality of schools through the implementation of ISO 9001: 2008 management. Therefore, the formulation of the problem of this study is whether the implementation of ISO 9001: 2008 management policy towards quality management in SMA Kota Surakarta. This study aims to analyze the impact of ISO in quality management on school policy factors, human resources, leadership style and the impact of ISO itself on the development of school management quality. Based on the method, this research is a qualitative research. Based on the objectives, this research is a descriptive study. This research data collection technique using a combined method, namely; interviews and documentation. The results of this study indicate that the impact of the implementation of the ISO 9001: 2008 quality management system policy combined with school-based management has increased the quality at SMA MTA Surakarta. This increase has an impact on school quality management, namely; 1) administration, 2) facilities and infrastructure, 3) Teaching human resources and educational staff. This is because there is a school-based management system that gives schools the authority to make policies independently but is also guided by the policies of the Ministry of Education and Culture. Due to the implementation of ISO 9001: 2008 it also provides a branding for schools and has an impact on standardization in school accreditation.

 

Keywords: implementation of ISO 9001: 2008; improving school quality

 

Received: 2021-08-20; Accepted: 2021-09-05; Published: 2021-09-20

 

Pendahuluan

Pendidikan awalnya memiliki aspek yang amat besar pengaruhnya di dalam diri seseorang. Pendidikan secara umum merupakan suatu hal yang sadar dan terencana dengan baik demi terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran secara efektif.

Indonesia sebagai Negara berkembang mencoba untuk mengikuti pola di modernisasi melalui peningkatan mutu pendidikan yang ada di Indonesia. Peningkatan ini memiliki tujuan guna mempersiapkan bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan globalisasi sekarang ini (Manan & Galba, 1989).

Seiring waktu, kualitas teknologi terus tumbuh dalam hal kualitas dan kinerja. Peningkatan kualitas adalah suatu keharusan dan harus diterapkan oleh lembaga mana pun. Dalam dunia pendidikan, sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan karena kualitas adalah keunggulan produk dibandingkan produk lain (Fadhli, 2017).

Kualitas adalah bagian terpenting dari keseluruhan agenda organisasi, dan peningkatan kualitas adalah tugas paling penting yang dihadapi lembaga mana pun. Meningkatkan kualitas pendidikan adalah tujuan mengembangkan sektor pendidikan nasional dan bagian penting dari usaha untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan (Mulyasa, 2015).

Tentu saja, terkait dengan peningkatan kualitas lembaga pendidikan, tidak mungkin memisahkan lembaga-lembaga ini dari strategi yang direncanakan untuk membangun manajemen untuk meningkatkan kualitas lembaga pendidikan.

Kualitas sangat penting dalam proses pendidikan. Dari sudut pandang makroskopis, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Termasuk fasilitas pendidikan yang memiliki faktor kurikulum, kebijakan pendidikan, strategi modern dan diimbangi dengan manajemen profesional (Nurhayati, 2010).

 Sallis dalam (Merdekawati, 2011) menjelaskan dalam meningkatkan suatu mutu di dalam lembaga pendidikan maka suatu organisasi harus memiliki 1) nilai moral dalam lembaga pendidikan itu sendiri, dengan pengecualian perspektif makroskopis dalam meningkatkan kualitas pendidikan; 2) hasil tes yang sangat memuaskan; 3) dukungan dari orang tua, komunitas bisnis dan komunitas sekitarnya; 4) sumber daya yang melimpah; 5) Implementasi teknologi terbaru; 6) kepemimpinan dan tujuan (visi) yang kuat; 7) minat dan minat pada siswa; 8) Kurikulum Terkait yang Seimbang.

Dari semua paparan peningkatan mutu dalam lembaga pendidikan memiliki berbagai macam strategi yang berkaitan dengan adanya sistem manajemen didalamnya. Secara hakekatnya manajemen merupakam suatu hal yang harus dimiliki oleh semua lembaga ataupun instansi lain dalam memajukan proses terjadinya suatu kinerja dan peningkatan mutu pada masing-masing lembaga.

Menurut (Lazwardi, 2016) menjelaskan bahwa manajemen adalah proses mengendalikan, merencanakan dan mengelola upaya anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan.

Menurut (Terry, 2000) mengatakan manajemen adalah proses khas yang terdiri dari berbagai rencana, organisasi, mobilisasi dan kontrol yang diambil untuk menentukan dan mencapai tujuan yang menentukan penggunaan dan target tenaga kerja. Menerapkan dan mempromosikan kegiatan manajemen untuk meningkatkan kualitas yang diinginkan.

Salah satunya dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang membutuhkan strategi manajemen adalah manajemen berbasis sekolah. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah salah satu istilah ilmu manajemen pendidikan. Administrasi ini memiliki beberapa nama yang disebut tata kelola berbasis sekolah (School Based Govermance), manajemen mandiri sekolah (School Self Management), dan akhirnya manajemen berbasis sekolah (School Site Management). Ini mencakup definisi dengan fokus yang sedikit berbeda, tetapi memiliki kriteria yang sama dalam hal otonomi ketika menerapkan manajemen sekolah (Pasaribu, 2017).

Sebelumnya, (Dhartamuda, 2015) menjelaskan bahwa selama Orde Baru yang sangat tersentralisasi, sekolah ditempatkan pada posisi kritis, tidak berdaya, dan bahwa kemandirian, kepasifan, dan rencana pembangunan macet menunggu kebijakan pusat. Dengan demikian, pengembangan manajemen pusat di era Orde Baru mengalami perubahan dalam sistem manajemen, yang mengarah ke manajemen sekolah independen dan tidak didorong oleh standar pemerintah yang ada.

Pada tanggal 1 Januari 2001, ketika Departemen Pendidikan (Departemen Pendidikan Nasional) menerapkan otonomi daerah, arah manajemen sekolah berubah sesuai dengan standar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Manajemen bertujuan untuk meningkatkan semua kinerja sekolah dalam hal efisiensi, kualitas/efisiensi, inovasi, relevansi dan kesetaraan, dan akses ke pendidikan (Dhartamuda, 2015).

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah sejenis manajemen sekolah yang mempromosikan pemberdayaan kelompok yang lebih besar dan mendorong pengambilan keputusan bersama di semua penghuni sekolah dan masyarakat sekitar dalam upaya meningkatkan dan meningkatkan kualitas pendidikan (Khairunniswah, 2020).

Menurut (Suhardan, 2010) menjelaskan bahwa Manajemen Berbasis Sekolah adalah desain manajemen yang menyediakan sekolah dengan kebijakan independen yang berkontribusi pada pengambilan keputusan yang melibatkan semua anggota sekolah secara langsung sesuai dengan standar layanan pemerintah pusat, negara bagian dan lokal.

Manajemen berbasis sekolah secara garis besar merupakan suatu pedoman dalam memenejemen kegiatan yang telah dirancang oleh sekolah dalam mencapai tujuan yang telah di inginkan. Dalam artian manajemen ini sebenarnya memiliki sistem dimana memberikan otonomi kepada pihak lembaga sekolah untuk mengelola sekolahnya sendiri, tapi dengan acuan yang sudah di rencanakan oleh pemeritah tapi lembaga sekolah-lah yang memiliki otoritas tertinggi dalam mengembangkan dan menentukan kebijakan yang akan diambil dalam melakukan pengembangan peningkatan mutu pendidikan.

Maka dari itu lembaga pendidikan menentukan berbagai metode dan rancangan yang diluncurkan dalam mengatasi kendala yang menghambat dalam peningkatan mutu pendidikan. Karena MBS memberikan otoritas besar terhdapat lemabga pendidikan secara mandiri, sehingga salah satu prinsip yang di terapkan adalah Standar ISO dalam manajemen mutu (Quality Management)

ISO merupakan lembaga Internasional yang bergerak pada bidang standarisasi yang didirikan di Jenewa, Swiss pada tahun 1947. ISO adalah sebuah sistem manajemen yang memperagakan kemampuan suatu lembaga atau organisasi supaya taat asas dalam memberikan pelayanan yang dapat memenuhi permintaan pelanggan dan peraturan yang berlaku dengan tujuan meningkatkan kepuasaan pelanggan berdasarkan penerapan sistem manajemen mutu yang terdapat di ISO secara efektif, termasuk proses perbaikan atau pengendalian yang berkelanjutan.

ISO 9001 merupakan sistem standar manajemen mutu yang dirancang untuk membantu organisasi dalam memastikan bahwa lembaga atau organisasinya dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dan stake holdernya serta dapat memenuhi persyaratan perundangan, hukum dan perturan yang terkait produk dan jasanya.

Dengan demikian, salah satu cara suatu lembaga pendidikan yang bermutu dalam meningkatkan kualitasnya adalah dengan mengikuti Quality Management yang di sarankan dalam Standar ISO 9001: 2015. BSN (Badan Standarisasi Nasional) telah mengadopsi ISO 9001 menjadi SNI 19-9001 yang menjelaskan bahwa sistem manajemen mutu menjadikan sistem manajemen yang mengarahkan dan mengendalikan organisasi dalam hal mutu (Emmi Silvia Herlina, 2019).

 

Tabel 1

Research Gap Implementasi Manajamen Mutu ISO 9001:2008

Gap

Peneliti/Judul

Teknik Analisis

Hasil penelitian

Terdapat pengaruh yang besar dalam manajemen mutu yang dalam implementasi ISO di dalam lembaga pendidikan karena adanya MBS yang memberikan ke luwesan dan kemandirian dalam mengolah lembaga pendidikan tersebut terutama Kepala sekolah dan Guru.

(Usman, 2018)/ Implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 pada SMK N 2 Banda Aceh

Penelitian naturalistik deskriptif kualitatif

Dengan wawancara, observasi dan dokumentasi

SDM guru dan pegawai yang tidak memahami Manajemen Mutu secara optimal dan tidak konsisten.

(Herlina Herlina, 2013)/ Kontribusi ISO 9001:2008 dalam peningkatan manajemen mutu Sekolah (Studi Kasus di SMP N 115 Jakarta)

Penelitian kualitatif  dengan metode studi kasus tunggal

Adanya efektifitas dalam perbaikan berkelanjutan, tim kerja dan pelatihan yang di lakukan di SMP N 115 Jakarta dengan mengacu ISO 9001

(Jelita & Ferdian, 2019)/ Pengaruh Sistem manajemen mutu ISO 9001: 2015 terhadap kinerja guru di sekolah menengah atas

Analisis deskriptif, regresi dan linier sederhana dan uji asumsi klasik

ISO 9001 memiliki pengaruh yang segnifikan terhadap kinerja guru dan sistem manajemen mutu.

 

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor-faktor apa sajakah yang paling mendukung sekolah dalam mengimplementasikan kebijakan manajemen berbasis sekolah kedalam sistem manajemen mutu dengan standar ISO 9001:2015.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca untuk praktisi, akademisi atau pengamat pendidikan. Kelebihan dari penelitian ini adalah: 1). Penggunaan teoritis sebagai informasi dan bahan penguat untuk keuangan sains, khususnya manajemen pendidikan. 2). Praktis sebagai pedoman atau rekomendasi bagi praktisi manajemen di bidang pendidikan, terutama yang terlibat dalam peningkatan kualitas Pendidikan. 3). Penggunaan umum yang dipandu oleh pengamat penelitian pendidikan untuk memperkaya wawasan dan wacana pengetahuan melalui pendekatan teoretis dan praktis.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis studi studi kasus dengan pendekatan kualitatif, karena peneliti tidak memiliki hak bahkan untuk mencoba memanipulasi data dalam proses pengklasifikasian dan pemilihan peristiwa yang terjadi di lapangan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dalam bentuk data. Tentang kondisi yang terjadi di lapangan. Pengumpulan data ini sering disebut sebagai pengambilan data alami.

Studi kasus adalah sebuah inkuiri empirik yang meneliti tentang fenomena tentang bagaimana sebuah fenomena itu bekerja dalam kehidupan nyata yang bertujuan untuk memahami isu-isu atau suatu masalah yang sedang terjadi dan multisumber menjadi bukti yang di manfaatkan (Creswell & Tashakkori, 2007). Penelitian study kasus merupakan pendekatan kualitatif yang mengeksplorasi suatu kasus dibatasi melalui data rinci terkait dengan berbagai sumber informasi seperti observasi, wawancara, materi audiovisual dan dokumen yang memberikan suatu gambaran atau deskripsi dari kasus dan kasus yang bertema.

Model studi kasus, meliputi: 1) merancang studi kasus, 2) melaksanakan studi kasus dan mengidentifikasi kasus. 3) mengumpulkan data dari studi kasus. 4) menganalisis data tersebut secara lebih spesific dari kasus tersebut. 5) melaporkan hasil data dari studi kasus tersebut (Creswell & Tashakkori, 2007).

Penelitian ini juga dapat dikategorikan edalam penelitian evaluaif kaena focus penelitian ini adalah mengevaluasi berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh kepala sekolah menerapkan kebijakan manajemen mutu (ISO 9001: 2008) sebagai kebijakan manajemen untuk pengembangan pendidikan.

Subjek penelitian ini adalah SMA MTA Surakarta, informannya adalah kepala sekolah dan pimpinan lainnya (terutama tim/petugas quality control) yang bertanggung jawab atas tugas tertentu, serta jumlah guru dan tenaga pendidik yang banyak. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan validitas data yang valid.

Sedangkan objek penelitian ini adalah implementasi system manajemen mutu (ISO 9001: 2008) di SMA MTA Surakarta, terutama terkait dengan: 1) kepemimpinan yang menjadi kunci utama keberhasilan dalam mengimplementasikan manajemen mutu. 2) dampak manfaat dari manajemen mutu dengan standar ISO 9001: 2008.

 

Hasil dan Pembahasan

Mengacu pada masalah dan tujuan penelitian ini, maka deskripsi dan analisis data peneliti sajikan dalam empat narasi utama: (1) Faktor Sukses Implementasi Manajemen Mutu. (2) Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah. (3) Dampak Implementasi Manajemen ISO 9001. (4) Tugas Menjalankan dan Implementasi Manajemen Mutu.

1.    Faktor Sukses Implementasi Manajemen Mutu

Dalam mensukseskan implementasi manajemen mutu tak luput dari kerjasama yang baik antara team manajemen mutu, guru, waka, staff dan kepala sekolah demi memberikan mutu yang baik terhadap pelanggan. Maka dari itu peneliti ingin mengetahui faktor sukses dalam menjalankan manajemen mutu yang di fokuskan pada emapat (4) aspek yang mempengaruhinya, yaitu a) aspek manajemen mutu, b) aspek komitmen dan dukungan manajemen, c) aspek komunikasi dan keterlibatan semua anggota, d) aspek tingkat organisasi sebelumnya.

a.    Aspek Manajemen mutu

1)   Dalam memastikan proses yang diperlukan dalam sistem manajemen mutu yang telah ditetapkan, diterapkan dan dipelihara di SMA MTA Surakarta adalah dengan adanya evaluasi atau tinjauan manajemen.

“Prinsipinya evaluasi atau tinjauan manajemen, memastikan semua proses itu dengan cheklist salah satunya, kemudian setiap 1 tahun sekali ada tinjaun manajemen dari lembaga sertifikasi untuk memastikan semua berjalan dengan standar ISO” (Chandam).

Evaluasi tersebut memberikan tugas terhadap semua pihak yang berada di SMA MTA Surakarta dalam menjalankan manajemen mutu hal tersebut di perkuat dengan adanya salah satu tindakan yang berupa checklist dalam memastikan semua kegiatan atau tugas yang telah dibebankan kepada seluruh warga sekolah berjalan dengan baik, serta pihak Waka Sarpras yang diberikan checklist dalam menjalankan tugasnya dalam menjaga dan memastikan semua sarana prasarana dalam menunjang kegiatan belajar mengajar dalam keadaan layak. 

Selain dari pihak manajemen mutu yang memberikan tinjaun, tapi juga terdapat tinjauan langsung dari lembaga ISO yaitu setiap 1 tahun sekali dan terkadang lembaga ISO hanya memberikan checklist terhadap lembaga tersebut kemudian diserahkan kepada pihak manajemen mutu sekolah untuk menjalankan apa saja yang terdapa di dalam cheklist tersebut yang kemudian di serahkan kembali kepada lembaga ISO untuk di evaluasi dan di nilai.

2)   Pelaporan manejemen sekolah kepada manajemen puncak terkait kinerja sistem manajemen mutu berupa laporan hasil evaluasi yang dilaksanakan melalui pertemuan langsung dengan pihak lembaga ISO setiap bulan untuk menyampaikan komitmen yang telah di laksanakan oleh warga sekolah dari masing – masing bagian telah melaksanakan tugasnya. Karena bukti kerja fisik tersebut didasarkan oleh adanya cheklist dan pertanyaan dari pihak lembaga ISO.

“laporan itu dilaksanakan dengan adanya pertemuan tim ISO setiap bulan untuk menanyakan komitmen dari masing-masing bagian dalam melaksanakan tugasnya, jadi ada yang bentuk nya ceklist ada juga yang bentuknya pertanyaan – pertanyaan langsung, contohnya ya kalau di bagian kebersihan ya dia harus ceklist di ruang dimana dia bertanggung jawab bahwa tugasnya sudah dilaksanakan, kalau di bagian sarpras juga harus ceklist semua barang-barang. Kalau laporan setiap bulan, tapi kalau bagian kebersihan ya setiap hari....bahkan jika ada yang tidak terlaksana akan diganti dengan aktifitas yang memungkin dapat terlaksana bisa ditambah ataupun di kurangi. Serta juga di lakukan koordinas.” (Chandam).

Kebutuhan yang mendukung dalam perbaikan manajemen tersebut adalah melalui rapat koordinasi yang dilaksanakan oleh manajemen mutu yang mengikutsertakan seluruh warga sekolah dalam memberikan evalusai dan solusi jika terdapat suatu kendala dalam melaksanakan manajemen mutu tersebut, sebelum hasil eveluasi tersebut di laporkan kepada lembaga ISO, jiak pihak sekolah belum bisa memecahkan masalah tersebut sebagai alternatifnya kendala tersebut akan di bahas atau di evalusai bersama yang melibatkan pihak ISO, Kepala sekolah dan team manajemen mutu.

3)   Dalam memastikan tumbuhnya kesadaran tentang persyarata pelanggan di seluruh organisasi melalui hubungan timbal balik yang di laksanakan setiap satu tahun sekali terhadap wali murid pada saat rapat pleno dengan memberikan form “Survei Kepuasan Pelanggan”

“memastikannya ya dengan kebalikan, ya setiap tahun ada quesioner yang diberikan ortu untuk dilibatkan, namanya survei kepuasan mutu atau kepuasan pelanggan untuk memastikannya.” (Chandam).

Dari form tersebut akan di dapatkan data sejauhmana pihak pelanggan (wali murid) merasakan kinerja seluruh warga sekolah terhadap putra putrinya yang mengenyam belajar di SMA MTA Surakarta, jika ada hasil yang menunjukkan kurang atau belum maksimalnya pelayanan, maka akan menjadi bahan evaluasi untuk memberikan pemecahan masalah tersebut.

b.    Aspek komitmen dan dukungan manajemen

1)   Wakil Manajemen mutu menyampaiakan pentingnya memahami pelanggan serta undang-undang yang berlaku terkait manajemen mutu terhadap organisasi.

“ya dipastikan semua ativitas tidak melanggar hierarki peraturan dari regulasi yang ada, jadi peraturan tertinggi tidak boleh di langgar dengan peraturan di bawahnya, sehingga semua aspek peraturan vertikalnya sudah lurus benar, kemudian dari aspek horisontalnya dikoordinasikan ke orang tua dalam bentuk kepuasan.”(Chandam).

Melalui alur kepuasan pelanggan yang menjadi acuan pencapaian tercpainya manajemen mutu serta hirarki manajemen yang tidak boleh di langgar.

2)   Kebijakan mutu yang ditetapkan di SMA MTA Surakarta oleh wakil manajemen mutu adalah dengan terus memastikan visi dan misi berjalan sesuai dengan harapan, serta motto sekolah harus sesuai dengan standar yang berlaku.

“secara umum, ya memastikan bahwa misi visi sekolah itu bisa berjalan sesuai dengan harapan, ya bentuknya misalnya sekolah itu punya motto berilmu, berakhlak berprestasi, itu dipastikan bahwa siswa itu memiliki standar akhlak yang di janjikan, minimal yang bisa terlihat, namun jika anak-anak yang tidak sesuai standar itu biasanya tetap ada tahapan peringgatan, kalau emang dirasa tidak memenuhi standar mutu itu, ya disarankan untuk pindah atau kalau di SP ya dikeluarkan.” (Chandam).

Kebijakan ditetapkan karena standar output yang akan di hasilkan oleh SMA MTA Surakarta adalah menghasilkan siswa siswi yang memiliki kualifikasi dalam pendidikan global dan pendidikan agama yang membangun karakter siswa yang religius. Jika belum mencapai standar maka akan ada tahapan dimana siswa akan di berikan bimbingan lebih dalam meningkatkan standar kemampuan siswa, tapi jika ada pelanggaran yang tidak sesuai dengan standar kebijakan yang sudah di tetapkan maka siswa akan di keluarkan dari SMA MTA Surakarta.

3)   Cara wakil manajemen mutu dalam menetapkan sasaran mutu yang ingin di capai adalah sosialisasi terlebih dahulu

“ya yang pertama adalah sosialisasi dulu, lalu meminta usulan – usulan dari masing-masing PJ aktivitas maupun pelanggan, setelah itu kemudian ditetapkan sebagai pertauran bersama untuk dilaksanakan, walaupun biasanya sasarn mutu itu sudah rencanakan dari pihak manajemen, kemudian dikeluarkan ke pelanggan bisa ke ortu, masyarakat bahkan guru, kemudian di implementasikan lalu masuk ke dalam implementasi manajemen pada umunya.” (Chandam).

Hal ini dilakukan untuk mengetahui feedback yang akan di berikan kepada wakil manajemen mutu dari masing – masing PJ (penanggung jawab) bagian manajemen. Sasaran mutu di SMA MTA Surakarta juga mengacu pada penilaian akreditasi tiap 5 tahun sekali serta hasil survei pelanggan yang dikuatkan sebagai sasaran mutu yang akan di tingkatkan dan di tetapkan sebagai aturan bersama kedalam program manajemen mutu, walaupun pada dasarnya pihak manajemen mutu sudah menetapkan sasarn mutu yang akan dicapai, tapi hal ini tetap harus di sosialisasikan terlebih dahulu kepada seluruh warga SMA MTASurakarta yang kemudian di implementasikan masuk kedalam sistem manajemen yang akan di jalankan di SMA MTA Surakarta.

4)   Pihak manajemen mutu SMA MTA Surakarta dalam memastikan sumberdaya yang tersedia di dalam lembaga pendidikan tersebut

“ya semua di pastikan bahwa orang-orang yang menduduki jabatan tersebut sudah sesuai dengan kompetensinya, kemudian dalam arti top management saya dulu, kepala sekolah dipastikan sudah memiliki sertifikat kepala sekolah atau sudah lulus ujian kepala sekolah kemudian syarat-syarat regulasinya vertikalnya sudah memenuhi unsur kepangkatan minimal 3c, karna ini sekolah yayasan, maka bisa saja yayasan menambahkan syarat khusus.” (Chandam).

Maka dari itu sumberdaya di dalam suatu lembaga pendidikan harus sesuai dengan kompetensinya karena hal ini akan menjadi acuan dimana pihak manajemen dapat menilai profesionalisme tiap individu, sebagai gambaran Kepala Sekolah harus sudah memiliki sertifikat kepala sekolah sebagai syarat regulasi dalam memenuhi unsur kepangkatan (Regulasi) karena statusnya sekolah swasta yang di bawah naungan yayasan. Karena lemabaga pendidikan di bawah naungan yayasan yang dimana yayasan juga memiliki andil yang besar di dalam lembaga yang di jalankan, maka pihaka kepengurusan yayasan juga memiliki syarat khusus atau hak tersendiri dalam menyeleksi atau menyaring sumber daya yang dibutuhkan di dalam lembaga pendidikan tersebut.

c.    Aspek komunikasi dan keterlibatan semua anggota

Dalam aspek komunikasi dalam melibatkan semua anggota yang berada di suatu lembaga pendidikan dalam memastikan bahwa proses komunikasi sudah sesuai dengan yang di tetapkan di dalam organisasi dan efektif

“ada di dalam suatu organisasi ada pertemuan pleno sekolah untuk mengevaluasi kegiatan setiap bulan dan juga ada motivasi, setelah itu kerja dari masing-masing team dari setiap management (level baawah) sudah menerima informasi yang sama persis dengan informasi yang ada di top management, kemudian di sosialisasikan kemudian di terapkan pada proses management seperti pada umumnya.” (Chandam)

Melalui rapat pleno untuk di evaluasi secara kerjasama team ataupun rapat manajemen yang kemudian akan disosialisasikan sebagai aspek komunikasi yang melibatkan semua anggota. Rapat pleno melibatkan semua anggota dalam tercapainya komunikasi yang efektif dengan maksud menghasilkan sebuah keputusan bersama dalam tercapainya manajemen mutu yang akan di hasilkan oleh SMA MTA Surakarta.

d.    Aspek tingkat organisasi sebelumnya

Lembaga pendidikan dalam memulai langkah sertifikasi yang telah memiliki proses-proses SOP yang berlaku yang sudah teridentifikasi secara jelas dan terstruktur akan membantu dalam implementasi ISO 9001, karena ISO memiliki dampak yang sangat bagus terhadap lembaga pendidikan (SMA MTA Surakarta). Dalam pencapaian manajemen mutu yang berstandarkan ISO 9001 sangatlah berpengaruh pada manajamen sekolah, karena semua regulasi kegiatan yang ada di dalam lembaga tersebut harus sejalan dengan ISO yang sudah di tetapkan sehingga hasil dari standar ISO tersebut akan menajdi acuan pertimbangan evalusi dan penetapan standarisasi oleh pihak anggota organisasi baru di masanya dalam menjalankan manajemen mutu yang berstandarkan ISO 9001 di SMA MTA Surakarta.

Di dalam manajemen mutu sekolah, faktor kepemimpinan adalah salah satu faktor yang paling mempengaruhi di dalam mengelola suatu manajemen. Oleh karena itu di dalam studi ini peneliti menggunakan data secara wawancara dengan guru-guru SMA MTA Surakarta mengenai gaya kepemimpinan dalam bidang pendidikan.

Dari hasil wawancara dengan guru-guru SMA MTA Surakarta mengenai gaya kepemimpinan kepala sekolah dapat di tarik kesimpulan dan di lihat didalam empat variabel kepemimpinan, yaitu:

a.    Idealized Influence (pengaruh ideal)

Di dalam gaya kepemimipinan kepala sekolah dalam variabel Pengaruh Ideal, dalam hal ini kepala sekolah juga bekerjasama dengan wakil kepala sekolah dan tim manajemen mutu di dalam melakukan tugas pokoknya sesuai dengan visi dan misi di SMA MTA Surakarta.

“menumbuhkan dalam rangka penjaminan akhlak itu menumbuhkan tahapan – tahapan yang mendukung standar akhlak, contohnya tidak membuka laptop di sembarang tempat, karena laptop dalam management itu menjadi salah satu penganggu dalam rangka pengembangan akhlak siswa. Sehingga harus ada izin khusus itu dalam rangka untuk menjamin standar akhlak perkembangan siswa.” (Chandam).

Sehingga Kepala sekolah juga memberikan penjabaran setiap pointnya yang terdapat di dalam visi dan misi SMA MTA Surakarta kepada seluruh Guru dan staff dengan tujuan memberikan wawasan dan keterlibatan mereka dalam menjalankan visi dan misi sekolah tersebut dengan komitmen tinggi dalam mencapai setting goal SMA MTA Surakarta yang di inginkan dalam artian hasil lulusan siswa yang kompeten dan sesuai dengan standar akhlak yang di tetapkan oleh pihak yayasan dan sekolah.

“memberi kebebasan dalam koridor kebebasan tugas, namun bukan berarti bebas secara menyeluruh. Contohnya wakasek kurikulum yang membuat perencanaan dan tim sukses, ataupun program terkait dalam menunjang manajemen sekolah sebagai acuan. Jadi ini yang dimaksud bebas itu bebas mengembangkan tugasnya dalam mengimplementasikan pendidikan. Jadi, guru juga bebas berkreasi dalam implementasi pendidikan yang dapat menunjang sistem manajemen pendidikan di sekolah sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya” (Chandam).

Pengaruh Ideal dalam gaya kepemimpinan kepala sekolah SMA MTA Surakarta memberikan kebijakan kepada guru dalam memberikan kebebasan berkreasi dalam mengemban tugas yang diberikan, seperti contohnya guru di bebaskan sekreatif mungkin untuk membuat sistem belajar menagajar yang menarik dengan melalui berbagai macam pendekatan serta memanfaatkan sarana dan prasarana secara maksismal, namun dalam artian bebas disini guru tetap harus mengikuti aturan pendidikan yang berlaku dari kemendikbud dan dari yayasan itu sendiri.

b.    Intellectual Stimulation (stimulasi intelektual)

Di dalam variabel ini peran kepala sekolah adalah memberikan dua aspek kebijakan yaitu dalam hal pendidikan dan pelatihan; kebebasan berpendapat. Dua kebijakan tersebut diberikan kepada guru. Sedangkan kepala sekolah juga memiliki kemampuan intelektual tersendiri dalam memecahkan masalah yang menghambat sistem manajemen mutu yang ada di sekolah.

“prinsipnya ya diberikan pada setiap pertemuan untuk menyampaikan pendapat, apapun pendapatnya, walaupun dalam implemntasinya, pendapat tersebut tidak seluruhnya di laksanakan, namun di tampung terlebihh dahulu untuk di implementasikan dalam program selanjutnya. Serta memberikan pelatihan dan pendidikan dalam menunjang sumber daya manusia yang ada di suatu lembaga pendidikan.” (Chandam)

Penjelasan dua aspek kebijakan yang diberikan kepada guru sejalan dengan apa yang kepala sekolah SMA MTA Surakarta utarakan tentang meningkatkan kemampuan setiap individu dalam menjalankan manajemen mutu. Pertama, tentang pendidikan dan pelatihan, dalam meningkatkan kualitas SDM yang ada di SMA MTA Surakarta, kepala sekolah memberikan dukungan dan arahan kepada guru yang memiliki SDM lebih untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Sedangkan pelatihan diberikan kepada guru atau staff dengan tujuan sama untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan setiap individu yang dengan bimbingan langsung dari para ahli di bidangnya. Pelatihan tersebut berupa diklat, seminar dan pelatihan sesuai dengan kebutuhan.

Kebebasan berpendapat, dalam hal ini kepala sekolah memberikan kebijakan kepada setiap untuk mengutarakan pendapatnya mengenai kebijakan yang diberlakukan di sekolah, hal ini di maksudkan agar kepala sekolah SMA MTA Surakarta dapat merevisi lagi kekurangan dan juga mengetahui kesalahan yang mungkin kurang pas terhadap kebijakan yang diberlakukan. Sehingga kepala sekolah memberikan kebebasan untuk berpendapat serta melibatkan guru dalam mengambil keputusan dan melakukan penilaian terhadap kegiatan sekolah. Dari kesimpulan tersebut dapat di artikan bahwa kepala sekolah sudah baik atau transformatif dalam variabel stimulasi intelektual ini.

“prinsipnya, iya, karena guru-guru di SMA MTA setiap tahun diberikan anggran walaupun tidak banyak, senilai 80.000 tiap tahunnya sesuai dengan kebutuhannya. (Chandam)

Di dalam intelectual stimulation, kepala sekolah SMA MTA Surakarta memberikan anggaran kepada guru setiap tahun sebesar Rp. 80.000,-  untuk membeli buku sesuai dengan kebutuhannya dalam pengembangan diri guru

c.    Inspirational motivation (motivasi inspirasional)

1)   Dalam memberikan dukungan atau support, hal ini dibuktikan dari adanya kepala sekolah memberika kebijakan kepada guru untuk melanjutkan pendidikannya, serta memberikan dukungan kepada guru dalam melaksanakan tugas yang di ampunya dapat bekerja keras dan profesional. Serta memfasilitasi guru dalam kegiatan pemebelajaran dengan dukungan teknologi yang saat ini banyak digunakan seperti googleclassrooom dan zooom. Serta memberikan kebebasan terhadap guru dalam memilih teknologi tambahan.

2)   Dalam hal motivasi, kepala sekolah memberikan implus kepada guru tentang motivasi hidup di dalam dunia pendidikan yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam mencapai kesuksesan.

3)   Mengkomunikasikan dalam hal ini kepala sekolah SMA MTA Surakarta tentang tujuan yang harus dicapai guru sesuai dengan visi dan misi sekolah serta memberikan feedback dengang baik dalam menyampaikan tugas yang harus di selesaikan dari masing-masing bidang dengan baik.

4)   Dalam hal berdiskusi, kepala sekolah memberikan waktu khusus terhadap guru yang menemui suatu kesulitan yang menghambat tugasnya. Tujuan dari diskusi ini adalah agar masalah yang di temui tersebut dapat dicarikan jalan keluarnya secara bersama-sama agar tidak terjadinya misscommunication antara pihak satu dengan pihak yang lainnya.

d.    Individual consideration (perhatian/konsiderasi terhadap individu)

Di dalam aspek ini kepala sekolah SMA MTA Surakarta sangatlah terbuka dalam memberikan kritik dan saran terhadap dirinya sendiri dalam aspek kepemimpinan dan kinerjanya dengan tujuan dapat mengetahui kekurangannya dengan tujuan kepala sekolah dapat mengevaluasinya. 

Selain terbuka, kepala sekolah juga berperan aktif dalam memberikan perhatian terhadap seluruh warga sekolah saat mereka menemui suatu masalah yang berhubungan dengan sekolah. Sehingga kepala sekolah dapat mengetahui keluhan dari setiap individu yang dimana keluhan tersebut di tampung lalu di koordinasikan kembali jika masalah itu berat atau kepala sekolah juga memberikan jalan keluar terhadap keluhan yang di terimanya selagi masalah tersebut tidak terlalu kompleks.

Dari data wawancara yang di ajukan kepada responden maka akan di dapatkan sebuah data tentang dampak implementasi ISO di SMA MTA Surakarta, hal ini mengkaji pada sisi para pemenangku kepentingan internal (Guru dan Manajemen Sekolah).

 

a.    Penilaian/Persepsi Guru

Di dalam implementasi ISO itu sendiri di dapatkan hasil bahwa, ISO memiliki dampak yang sangat bagus terhadap manajemen mutu sekolah terutama dalam hal administratif, karena di dalam ISO harus ada laporan terperinci tentang seluruh aspek kegiatan sekolah dan sarana prasarana dalam menunjang kegiatan belajar mengajar.

“ya...sebenarnya ada ISO ataupun tidak itu sama saja dalam hal administratif sekolah, namun, kalau di ISO yang lebih di tekankan pada rekapan administratifnya adalah pada hal dokumentasi sebagai bukti fisik dalam pelaporan, dapat berupa foto maupun video.” (Chandam)

Administratif di ISO sangatlah konsisten karena dalam setiap kegiatan apaun harus terdapat bukti yang spesifik yang berupa dokumentasi baik foto ataupun video. Sehingga admisntrasi sekolah yang mengimplementasikan ISO sangat tertib dan akurat. Dalam hal ini juga relasi dengan pelaporan sarana dan prasarana yang dimana terdapat cheklist pada setiap sarana dan prasarana sekolah dengan tujuan mengetahui sarana dan prasarana tersebut masih layak digunakan atau tidak untuk kegiatan pembelajaran.

b.    Penilaian/Persepsi Manajemen Sekolah

Dalam mengimplementasikan ISO, manajemen sekolah juga memberikan feedback yang sama tentang ISO, yaitu di bagian administrasi sekolah, namun dalam hal ini pihak manajemen sekolah juga menyatakan bahwa adanya ISO, sekolah juga meningkatkan kualitasnya di dalam penggunaan IT (Informasi dan Teknologi) dalam kinerja sekolah dalam peningkatan lingkungan kerja di SMA MTA Surakarta terus di kembangkan dalam artian tenaga pendidik dan siswa di berikan fasilitas penunjang dalam kegiatan belajar mengajar.

“ya di dalam ISO semua warga sekolah terlibat semua dalam implementasi ISO, tidak hanya tenaga pendidik saja namun tenaga kependidikan juga ikut terlibat sebagai kolaborasi dan kerjasama dalam mengimplementasikan ISO itu sendiri.” (Chandam)

Di dalam ISO peningkatan kompetensi juga terus dilakukan kepada seluruh guru dan staff yang juga melibatkan pihak yayasan di dalamnya karena sekolah di bawah naungan yayasan. Hal ini sebagai langkah SMA MTA Surakarta dalam meningkatkan kompetensi kinerja dari setiap bagian staff dan guru dalam meberikan pelayanan terhadap siswa dan wali murid sebagai stakeholder.

c.    Dampak Negatif ISO

Selain memberikan dampak yang bagus terhadap sekolah, ISO juga memberikan beberapa dampak negatif terhadap lembaga sekolah. Secara umum, dalam implementasi ISO tidak adanyan penambahan birokrasi yang terjadi di SMA MTA Surakarta namun lembaga pendidikan hanya menambah peran atau tugas guru sebagai wakil manajemen mutu.

“ya sebenarnya ada tidaknya ISO sebenarmya SMA MTA Surakarta dalam menjalankan manajemen sekolah yang juga melibatkan stakeholder terkait sudah berjalan dengan baik, namun adanya ISO yang berubah hanya di dalam pembukuan administratif-nya dan pelaporannya. Sebenarnya ISO menjadi salah satu daya tarik dan branding suatu lembaga pendidikan dalam menarik konsumen dan juga merupakan suatu tambahan nilai plus dalam standarisasi akreditasi sekolah. Jadi, kalau SMA MTA Surakarta tidak menggunakan manajemen ISO sebenarnya tidak masalah, karena manajemennya sudah berjalan dengan baik, karna ISO merupakan suatu bentuk kerjasama dalam bidang manjemen sekolah dan juga membutuhkan anggran dana yang tidak sedikit.” (chandam)

Dalam implementasinya, dalam hal biaya sertifikasi dan pemiliharan ISO menurut wakil manajemen mutu yaitu relatif (Rp. 10.000.000/ tahun). Di lain sisi adaptasi standar pendidikan juga terdapat beberapa kesulitan dalam mengimplementasikannya baik itu berstandar ISO maupun tidak. Karena problema adaptasi standar pendidikan itu pasti ada, misalkan standar nilai KKM secara faktual harusnya lebih rendah dari yang tertulis namun dalam rangka motivasi canangan nilai KKM itu harus tinggi, jika rendah maka yang akan di dapatkan juga rendah pula.

Problema adaptasi ISO dalam sumberdaya adalah masalah kebiasaan tentang kurangnya menuliskan laporan yang telah di laksanakan. Hal ini lah yang perlu di tekankan terhadap semua aspek sumberdaya dalam menjalankan manajemen mutu terhadap implementasi ISO, karena dalam manajemen ISO aspek administratif sangatlah ketat dan terstruktur.

 

Kesimpulan

Dalam pelaksanaan pemberian sertifikat ISO di dalam aspek administratif memerlukan adanya bukti fisik yang berupa foto dan video terkait dengan semua kegiatan yang ada di sekolah, selain dari aspek kegiatan dalam aspek sarana dan prasarana juga menggunakan cheklist berkala yang di evaluasi tiap minggunya, sehingga staff dan waka sarpras harus benar-benar melakukan cheklist sebagai bukti fisik. Dari bukti fisik administratif itulah yang kunci yang paling menentukan keberhasilan dalam memperoleh sertifikat ISO. Dengan kata lain WMM (Wakil Manajemen Mutu) merupakan salah satu kunci dimana bersama tim manajemennya yang mengerjakan berbagai tuntutan administratif yang telah di tetapkan oleh ISO dan juga melakukan komunikasi dua arah dengan semua warga sekolah SMA MTA Surakarta. Wakil Manajemen Mutu juga melakukan perumusan dan penetapan kebijakan mutu dan SOP yang akan di berlakukan di dalam manajemen mutu ISO 9001:2008.

Selain kinerja tim manajemen mutu dalam mendapatkan sertifikat ISO, manajemen puncak juga memberikan komitmen yang besar pula dalam pengembangan dan penerapan sistem manajemen yang akan di terapkan, karena di dalam sistem manajemen mutu ini terdapat perbaikan atau evaluasi yang continue (terus menerus), sehingga kepala sekolah (manajemen puncak) SMA MTA Surakarta memberikan langkah efektifitasnya dengan cara : 1) menyampaiakan tujuan yang akan di capai dan menjadi persyaratan dalam memenuhi kepuasan pelanggan yang juga berdasarkan undang – undang dan perraturan yang berlaku sebagai stakeholder yang akan merasakan langsung dampak dari ISO. 2) menetapkan kebijakan mutu SMA MTA Surakarta. 3) memastikan sasaran mutu yang di tetapkan sesuai. 3) melakukan evaluasi dan tinjauan berkala. 4) memastikan sumber daya yang dimiliki mampu dan tersedi dalam menjalankan manajemen mutu.

Dari gambaran kebijakan manajemen puncak tersebut, dapat dilihat dari kinerja guru dan staff di SMA MTA Surakarta yang memberikan komitmen besar dalam menjalankan manajemen mutu yang dimana tidak semata guru dan staff tersebut berjalan sendiri – sendiri, tapi tetap adanya pendampingan dari tim manajemen mutu serta kerjasama dengan tim manajemen ISO di dalam ranah konsultasi dalam program ISO.

Di dalam komunikasi dan keterlibatan semua warga SMA MTA Surakarta sudah berjalan dengan baik. Hal itu tampak dari keterlibatan semua warga sekolah dalam memberikan feedback di dalam rapat koordinasi terkait kebijakan dan perihal sertifikat ISO. Hal ini dilakukan setiap satu bulan sekali untuk mengetahui kendala dalam manajemen mutu ISO yang akan di evaluasi bersama.

Karena manejemen mutu ISO yang menuntun dalam aspek akreditasi dan juga menjadi aspek administrasi di dalam standar nasional pendidikan, maka tata tertib perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dan seluruh laporan administratif dari aspek pengelolaan sudah berjalan dengan baik.

Dalam Sistem manajemen mutu – ISO di SMA MTA Surakarta dari pihak manajemen SMA di persepsikan oleh pendidik yang sudah transformatif atau baik di dalam melaksanakan manajemen mutu sekolah. Selain itu pihak manajemen atas atau kepala sekolah juga memiliki peran yang besar dalam suksesnya SMM-ISO di SMA MTA Surakarta, hal ini dilihat dari empat variabel gaya kepemimpinan kepala sekolah yang data di dapatkan dari hasil wawancara dengan guru PNS dan guru senior. Empat variabel gaya kepemimpinan yang meliputi: (1) pengaruh ideal atau keteladanan; (2) stimulasi intelektual; (3) motivasi inspirasional (memotivasi dan menginspirasi); dan (4) konsiderasi individual (memberi perhatian pada individual).

Hasil wawancara menunjukkan bahwa kepemimpinan SMA MTA Surakarta sudah transformatif atau sudah baik dalam memimpin dan mengimplementasikan SMM – ISO di SMA MTA Surakarta, sehingga sistem manajemen mutu tersebut berjalan dengan baik dan optimal. Hal ini sudah menunjukkan bahwa kepemimpinan SMA MTA Surakarta sudah menggambarkan pemimpin yang ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

 


BIBLIOGRAFI

 

Creswell, John W., & Tashakkori, Abbas. (2007). Differing perspectives on mixed methods research. Sage publications Sage CA: Los Angeles, CA. Google Scholar

 

Dhartamuda, Syaiful Anwar. (2015). Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah: Studi kasus pada Yayasan Bahana Cita Persada Kota Malang. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Google Scholar

 

Fadhli, Muhammad. (2017). Manajemen peningkatan mutu pendidikan. Tadbir: Jurnal Studi Manajemen Pendidikan, 1(2), 215–240. Google Scholar

 

Herlina, Emmi Silvia. (2019). Membaca Permulaan Untuk Anak Usia Dini Dalam Era Pendidikan 4.0. JURNAL PIONIR, 5(4). Google Scholar

 

Herlina, Herlina. (2013). Kontribusi Iso 9001: 2008 Dalam Peningkatan Manajemen Mutu Sekolah. Jurnal Manajemen Pendidikan, 4(1). Google Scholar

 

Jelita, Finda Nestria, & Ferdian, Ary. (2019). Pengaruh Sistem Manajemen Mutu ISO 9001: 2015 Terhadap Kinerja Guru di Sekolah Menengah Atas. Dirasat: Jurnal Manajemen Dan Pendidikan Islam, 5(1), 56–71. Google Scholar

 

Khairunniswah, Khairunniswah. (2020). Implementasi Program Kerja Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru Di SMP-IT Nurul Ilmi. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Google Scholar

 

Lazwardi, Dedi. (2016). Peran Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru. Al-Idarah: Jurnal Kependidikan Islam, 6(2). Google Scholar

 

Manan, Fadjria Novari, & Galba, Sindu. (1989). Sistem subak di Bali. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Google Scholar

 

Merdekawati, Agustina. (2011). Pengembangan profesionalisme pendidik di Madrasah Tsanawiyah Negeri Lakbok Banjar-Ciamis. UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Google Scholar

 

Mulyasa, Enco. (2015). Menjadi guru profesional, menciptakan pembelajaran kreatif dan menyenangkan. Google Scholar

 

Nurhayati, Endang. (2010). Nilai-Nilai Moral Islami dalam Serat Wulang Reh. Millah: Jurnal Studi Agama, 10(1), 41–56. Google Scholar

 

Pasaribu, Payerli. (2017). Peranan Partai Politik dalam Melaksanakan Pendidikan Politik. JPPUMA Jurnal Ilmu Pemerintahan Dan Sosial Politik Universitas Medan Area, 5(1), 51–59. Google Scholar

 

Suhardan, D. (2010). Standar Kinerja Guru dan Pengaruhnya Terhadap Pelayanan Belajar, dalam Mimbar Pendidikan. Bandung: UPI. Google Scholar

 

Terry, Robert D. (2000). Cell death or synaptic loss in Alzheimer disease. Journal of Neuropathology & Experimental Neurology, 59(12), 1118–1119. Google Scholar

 

Usman, Nasir. (2018). Implementasi Sistem Manajemen Mutu Iso 9001: 2008 Pada SMK Negeri 2 Banda Aceh. Jurnal Administrasi Pendidikan: Program Pascasarjana Unsyiah, 6(3). Google Scholar

 

Copyright holder:

Fauzia Damas Nungkiastuti, Amie Kusumawardhani (2021)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: