Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

e-ISSN: 2548-1398

Vol. 6, No. 9, September 2021

 

PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING BERBANTUAN APLIKASI GOOGLE MEET

 

Galih Mustikaningrum, Widiyanto, Nani Medianti

FKIP Universitas Kristen Satya Wacana, Indonesia

Email: monicagalih24@gmail.com, Widiyanto@gmail.com, Nanimedianti08@gmail.com

 

Abstrak

Penelitian ini dilatar belakangi merebaknya kasus Covid-19 yang penyebarannya mulai mengkawatirkan. Kondisi ini memaksa guru harus menyiapkan pembelajaran secara online. Pembelajaran yang paling sederhana dilakukan guru melalui Whatsapp group dengan orang tua murid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil yang didapatkan dari penerapan model Discovery Learning untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi, observasi, dan kualitatif. Hsil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi Google Meet dapat membantu guru dalam menyampaikan materi maupun memberikan tugas dan bimbingan kepada siswa sehingga persoalan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa yang rendah dapat diatasi. Beberapa penelitian terdahulu menjadi acuan peneliti untuk menggunakan aplikasi Google Meet dengan didukung penerapan model pembelajaran Discovery Learning dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa.

 

Kata Kunci: keterampilan berpikir kritis, hasil belajar siswa, Google Meet, Discovery Learning.

 

Abstract

This research is motivated by the outbreak of Covid-19 cases whose spread began to worry. This condition forces teachers to prepare online learning. The simplest learning is done by teachers through Whatsapp groups with parents of students. The aim of the study was to find out the results obtained from the application of the Discovery Learning model to improve students' critical thinking skills. The methods used in this study use documentation, observation, and qualitative techniques. Research obtained shows that the use of the Google Meet application can help teachers in delivering materials and providing assignments and guidance to students so that the problem of critical thinking skills and low student learning outcomes can be overcome. Some previous studies have been a reference for researchers to use the Google Meet application with the support of the Discovery Learning learning model in improving critical thinking skills and student learning outcomes.

 

Keywords: critical thinking skills, student learning outcomes, Google Meet, Discovery Learning.

Pendahuluan

Pemerintah Indonesia telah menerapkan aturan PSBB (Perbatasan Sosial Berskala Besar) yang merupakan singkatan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar yang dibuat dalam rangka Penanganan Covid-19. Hal ini dilakukan dengan harapan virus tidak menyebar lebih luas dan upaya penyembuhan dapat berjalan maksimal (Pribadi, 2020). Usaha pembatasan sosial ini pemerintah Indonesia juga telah membatasi kegiatan di luar rumah seperti kegiatan pendidikan yang telah dilakukan melalui pembelajaran daring yang dilakukan dengan memanfaatkan teknologi khususnya internet (Kristina, Sari, & Nagara, 2020). Peran pembelajaran berbasis online sebagai pendukung proses pembelajaran menjadi sangat signifikan dan perlu. Terutama di era global saat ini, transformasi berjalan sangat cepat. Kenyataannya adalah siswa bahkan dapat lebih mudah beradaptasi dengan teknologi baru dan perubahan yang ada saat ini (Etistika Yuni Wijaya, Sudjimat, Nyoto, & Malang, 2016).

Penerapan pembelajaran berbasis online untuk pengajaran dan pembelajaran memiliki dua tantangan utama, yaitu: (1) penerapan pembelajaran berbasis online sebagai “alternatif yang sulit bagi siswa”, dan (2) aplikasi berbasis online untuk menghasilkan siswa berpengetahuan (student-based student), yaitu memanfaatkan berbasis online untuk mengembangkan diri secara berkelanjutan (long life learning) dan meningkatkan produktivitas mereka. Pembelajaran berbasis online atau jarak jauh diharapkan memberi dampak positif pada siswa dan kemajuan pendidikan di Indonesia. Berdasarkan hal ini, guru juga mengharapkan partisipasi dan pengasuhan orang tua di rumah untuk mendorong anak-anak mereka agar semangat belajar di rumah, menggunakan fasilitas yang ada dan melakukan kegiatan sesuai dengan ketetapan pemerintah selama Covid-19 (Ilpaj & Nurwati, 2020).

Pembelajaran daring dilakukan dengan sistem belajar jarak jauh, di mana Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) tidak dilakukan secara tatap muka. Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan media, baik media cetak (modul) maupun non cetak (audio/video), komputer/internet, siaran radio dan televisi (Sari & Ahsani, 2020). Pada pembelajaran online, peserta didik dapat menjadi kurang aktif dalam menyampaikan aspirasi dan pemikirannya, sehingga dapat mengakibatkan pembelajaran yang menjenuhkan. Seorang siswa yang mengalami kejenuhan dalam belajar akan memperoleh ketidakmajuan dalam hasil belajar (Kamiyati & Nurmayanti, 2021).

Keadaan sebagaimana disebutkan di atas, juga terjadi pada Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) di SDN 2 Limbangan. Melalui wawancara yang dilakukan dengan beberapa guru, selama pembelajaran daring hasil belajar siswa menurun, hanya sedikit yang berpartisipasi dan aktif selama pembelajaran berlangsung. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi menurunnya hasil belajar pada siswa dalam pembelajaran selama pandemi Covid-19. Faktor-faktor tersebut seperti kondisi lingkungan belajar, sulitnya siswa untuk menemukan waktu yang tepat untuk belajar di rumah, kurangnya fasilitas untuk belajar daring seperti masih banyak pada orang tua siswa yang belum memiliki gadget dan susahnya jaringan untuk mengakses internet hal ini biasa banyak terjadi di daerah pedesaan sehingga memberikan pengaruh terhadap menurunnya hasil belajar siswa (Patonah & Muasomah, 2021).

Keadaan ini tentu saja memberikan dampak pada kualitas pembelajaran, siswa dan guru yang sebelumnya berinteraksi secara langsung dalam ruang kelas sekarang harus berinteraksi dalam ruang virtual yang terbatas. Guru dituntut memberikan pengajaran yang baik, menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar dan secara kreatif dan inovatif menggunakan media belajar yang menarik agar siswa dapat memahami materi pembelajaran dan tujuan pembelajaran dapat tercapai (Oktiani, 2017). Sebagai salah satu cara yang dilakukan peneliti untuk memperkaya khazanah keilmuan mengenai tema yang diangkat adalah dengan memperbanyak referensi atau rujukan. Referensi tersebut berfungsi untuk memperluas dan memperdalam bahasan mengenai tema penelitian serta menentukan kelayakan penelitian. Mengenai hal tersebut, peneliti mengambil kata kunci penting yaitu: “Model Discovery Learning Berbantuan Aplikasi Google Meet” serta “Keterampilan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa”.

Merebaknya kasus Covid-19 yang penyebarannya mulai mengkawatirkan. Kondisi ini memaksa guru harus menyiapkan pembelajaran secara online. Maka seiring dengan kebijakan pembelajaran online, dalam seketika guru “dipaksa” mengubah model pembelajaran yang biasanya tatap muka dialihkan dengan daring. Pembelajaran yang paling sederhana dilakukan guru melalui Whatsapp group dengan orang tua murid.  Tetapi menggunakan whatsapp group tentu jadi tugas tersendiri bagi guru karena harus mengorganisasi secara manual tugas-tugas siswa yang terkirim dan ini tentu membuat pekerjaan lebih sulit (Wiratsiwi & Mizan, 2021).

Proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 harus menampakkan proses pembelajaran yang memungkinkan siswa berlatih mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Muara keterampilan berpikir kritis pada akhirnya adalah hasil belajar siswa. Kenyataannya proses pembelajaran yang terjadi di SDN 2 Limbangan belum menerapkan model yang mampu meningkatkan ketrampilan berpikir kritis, dan hal tersebut berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa. Nilai rata-rata penilaian harian pada muatan pelajaran IPA baru mencapai 60,00 dan Bahasa Indonesia 62,00 dengan persentase jumlah siswa yang sudah mencapai ketuntasan belajar pada muatan pelajaran IPA baru mencapai 60,00%, dan muatan Bahasa Indonesia baru mencapai 63,00%.

Salah satu solusi yang dapat dimanfaatkan guru dalam pembelajaran online salah satunya adalah membuat kelas maya dengan Google Meet yang merupakan layanan online gratis untuk sekolah, lembaga non-profit dan siapa pun yang memiliki akun Google. Google Meet adalah platform pembelajaran campuran yang dikembangkan oleh Google untuk sekolah yang bertujuan menyederhanakan pembuatan, pendistribusian dan penetapan tugas dengan cara tanpa kertas. Menggunakan Google Meet, guru dapat membuat kelas maya, mengajak siswa gabung dalam kelas, memberikan informasi terkait proses KBM, memberikan materi ajar yang dapat dipelajari siswa baik berupa file paparan maupun video pembelajaran, memberikan tugas kepada siswa, membuat jadwal pengumpulan tugas dan lain-lain.

Peneliti berdiskusi dengan teman sejawat selaku guru pamong untuk mengatasi masalah rendahnya keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN 2 Limbangan. Guru harus mampu membekali siswa dengan berbagai kecakapan yang di dalamnya memuat Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), literasi, dan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dikenal dengan higher order thinking skills (HOTS). Kecakapan tersebut lebih dikenal dengan kecakapan abad 21 yang harusnya terintegrasi dalam proses pembelajaran, termasuk dalam melakukan evaluasi.

Peneliti melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) secara berkolaborasi. Peneliti dan teman sejawat selaku guru pamong sepakat bahwa permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada persoalan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa yang rendah pada mata pelajaran IPA, yaitu belum mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal), serta menetapkan solusi dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning berbantuan aplikasi Google Meet sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN 2 Limbangan Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal Semester Genap Tahun Pelajaran 2020/2021.

Penerapan model pembelajaran Discovery Learning berbantuan aplikasi Google Meet merupakan salah satu terobosan dalam menyikapi adanya pandemi seperti saat ini. Kegiatan pembelajaran yang tidak dapat berlangsung secara tatap muka langsung dapat disiasati dengan menggunakan aplikasi Google Meet (Mustikaningrum, Widiyanto, & Mediatati, 2021). Penggunaan aplikasi ini dapat membantu guru dalam menyampaikan materi maupun memberikan tugas dan bimbingan kepada siswa sehingga persoalan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa yang rendah dapat diatasi. Beberapa penelitian terdahulu menjadi acuan peneliti untuk menggunakan aplikasi Google Meet dengan didukung penerapan model pembelajaran Discovery Learning dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil yang didapatkan dari penerapan model Discovery Learning untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa.

 

Metode Penelitian

A.    Jenis penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), secara sederhana PTK dapat diartikan sebagai penelitian tindakan (Action Research) yang dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas proses dan hasil belajar sekelompok siswa (Guru, 2011). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sangat sesuai digunakan untuk penelitian ini karena penelitian diadakan di dalam kelas dan lebih difokuskan pada masalah-masalah yang terjadi di dalam kelas atau pada proses belajar mengajar. Hal ini pengertian kelas tidak terbatas pada empat dinding kelas atau ruang kelas, tetapi lebih pada adanya aktivitas belajar dua orang atau lebih siswa (Mulyasa, 2004).

B.  Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi untuk data kondisi awal, teknik observasi untuk mengamati proses pembelajaran, dan teknik tes uji kompetensi untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam pembelajaran tema Indahnya Keragaman di Negeriku sub tema 1 pada muatan pelajaran IPA melalui model pembelajaran Discovery Learning berbantuan aplikasi Google Meet pada siswa kelas IV SDN 2 Limbangan Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal semester genap tahun pelajaran 2020/2021. Alat pengumpulan data dalam penelitian ini berupa soal uji kompetensi, daftar nilai, lembar observasi, dan dokumentasi kegiatan pembelajaran. Sebelum membuat soal uji kompetensi, peneliti membuat kisi-kisi penulisan soal terlebih dahulu.

C.    Tenik Analisis Data

1.      Analisis Data Kuantitatif

Analisa data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema (Sofyan, 2018). Data kuantitatif yang berupa nilai hasil belajar siswa dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif.

a.       Keterampilan Berpikir Kritis

Peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa, dapat dicari melalui analisis data hasil observasi yang telah dilakukan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan medel Discovery Learning berbantuan aplikasi Google Meet. Adapun perhitungan data yang akan dianalisis dengan menggunakan skor rerata sebagai berikut:

 

Skor rerata =  x 100%

Setelah diperolßeh skor rerata hasil dari pengamatan keterampilan berpikir kritis siswa, peneliti menentukan kategori keterampilan berpikir kritis siswa. Pemberian kategori bertujuan untuk mengetahui kualifikasi persentase keterampilan berpikir kritis siswa. Secara rinci kriteria nilai kemampuan berpikir kritis siswa adalah sebagai berikut:

 

Tabel 1

Kriteria Nilai Kemampuan Berpikir Kritis

Kategori

Rentang

Sangat Kritis

81-100

Kritis

66-80

Cukup Kritis

56-65

Kurang Kritis

41-55

Tidak Kritis

0-40

(Widyanti, 2018)

b.      Hasil Belajar Siswa

Langkah-langkah analisa data hasil belajar siswa dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1)      Mengumpulkan data dari hasil observasi dan tes (uji kompetensi).

2)      Menentukan kriteria nilai dengan menggunakan rentang penilaian sebagai berikut:

 

Tabel 2

Rentang Penilaian

KKM Satuan Pendidikan

Panjang Interval

Rentang Predikat

A (Sangat Baik)

B (Baik)

C (Cukup)

D (Perlu Bimbingan)

80

20/3=8,33

93<A≤100

86<B≤91

80<C≤86

D<80

75

25/3=8,33

92<A≤100

83<B≤91

75<C≤83

D<75

70

30/3=8,33

89<A≤100

79<B≤91

70<C≤79

D<70

65

35/3=11,7

88<A≤100

76<B≤91

65<C≤76

D<65

60

40/3=13,33

87<A≤100

73<B≤91

60<C≤73

D<60

(Dokumen Kurikulum 2013)

 

Adapun analisis deskriptif yang digunakan adalah mencari skor rerata dan mencari persentase peningkatan hasil belajar dalam setiap siklus, sebagaimana berikut ini.

a)      Skor Rerata

Skor rerata dalam penelitian ini dihitung dengan cara menghitung rerata perolehan skor hasil belajar siswa sebagai berikut:

 

M =

Keterangan:

M         = Mean (Skor rata- rata kelas).

∑ X     = Jumlah skor seluruh siswa.

N         = Banyak siswa.

b)      Persentase Peningkatan Hasil belajar Belajar

Persentase peningkatan hasil belajar adalah besarnya kenaikan hasil belajar siswa dari sebelum dilakukan tindakan kelas sampai setelah dilakukan tindakan kelas. Cara menghitung persentase kenaikan hasil belajar adalah sebagai berikut:

 

P          =  × 100%

 

P                      = persentase peningkatan hasil belajar siswa.

M test akhir      = skor rata- rata test akhir yang akan dibandingkan.  

M test awal      = skor rata- rata test awal yang akan dibandingkan.

D.  Analisis Data Kualitatif

Analisis data kualitatif digunakan untuk menganalisis data kualitatif. Data kualitatif adalah data yang berupa informasi berbentuk kalimat yang berfungsi untuk memberikan informasi mengenai tingkat pemahaman siswa dan hasil belajar (Hengki Wijaya, 2019). Tema Indahnya Keragaman di Negeriku pada muatan pelajaran IPA sebelum dan setelah menggunakan alat peraga (kognitif), dan aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran (afektif).

 

Hasil dan Pembahasan

A.    Hasil Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus, setiap siklus penelitian terdiri dari empat tahapan yaitu: perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Secara rinci pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini meliputi langkah- langkah sebagai berikut:

1.      Siklus I

1)      Perencanaan

Berdasarkan hasil refleksi terhadap pembelajaran pra siklus, peneliti merencanakan kegiatan perbaikan pembelajaran tema Indahnya Keragaman di Negeriku sub tema 1 pada muatan pelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning berbantuan aplikasi Google Meet. Perencanaan pada siklus I pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

a)      Peneliti mengidentifikasi kekurangan pada pembelajaran pra siklus,

b)      Menyusun perbaikan-perbaikan pada siklus I,

c)      Menelaah materi pokok pembelajaran IPA yang akan dilakukan tindakan penelitian dengan menelaah indikator-indikatornya.

d)      Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai indikator yang ditetapkan,

e)      Menyusun kisi-kisi soal dan instrumen penelitian. Instrumen yang digunakan adalah penilaian tes, serta lembar observasi,

f)       Memberikan informasi melalui WA group mengenai link yang akan digunakan untuk pembelajaran online menggunakan Google Meet esok hari,

g)      Membuat lembar kerja siswa.

2)      Tindakan

Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembelajaran siklus I dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning berbantuan aplikasi Google Meet sebagai berikut:

a)      Peneliti menanyakan kabar siswa melalui Google Meet,

b)      Peneliti mengabsen siswa,

c)      Peneliti menyampaikan kepada siswa untuk selalu menjaga kebersihan dan selalu mematuhi protokol yang dianjurkan pemerintah agar terhindar dari Covid-19,

d)      Peneliti mengajak siswa untuk berdoa dan memberi semangat,

e)      Peneliti menjelaskan materi tema Indahnya Keragaman di Negeriku sub tema 1 pada muatan pelajaran IPA,

f)       Siswa mengamati gambar pada powerpoint yang disajikan peneliti lalu menentukan macam gaya yang bekerja beserta pengaruhnya terhadap benda,

g)      Siswa mengamati gambar-gambar kegiatan yang menggunakan gaya otot pada slide powerpoint,

h)      Peneliti membentuk kelompok-kelompok melalui Google Meet dan memberikan penjelasan tentang langkah-langkah penerapan model pembelajaran Discovery Learning secara daring,

i)       Siswa secara berkelompok diberi kesempatan untuk berdiskusi tentang gaya otot dan pengaruh gaya otot terhadap benda,

j)       Siswa secara berkelompok menjelaskan pengertian gaya otot dan pengaruh gaya otot terhadap benda,

k)      Peneliti memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan tanggapan atau pertanyaan,

l)       Peneliti bersama dengan siswa memberikan kesimpulan atas materi pembelajaran yang dipelajari,

m)   Peneliti memberikan evaluasi sebagai bahan penilaian pemahaman siswa akan materi pembelajaran,

n)      Peneliti menutup pembelajaran dengan memberikan pesan-pesan moral dan tugas di rumah.

3)      Observasi

Peneliti dibantu kolaborator penelitian melakukan pengamatan terhadap tindakan dan hasil unjuk kerja siswa dan mencatat kendala yang dijumpai dalam pembelajaran dengan menggunakan instrumen yang telah disiapkan. Observasi ini dilakukan selama proses pembelajaran dan unjuk kinerja.

4)      Refleksi

Kegiatan refleksi dilakukan oleh peneliti bersama kolaborator, yang selanjutnya dapat dipergunakan sebagai pijakan untuk melakukan kegiatan pada tindakan siklus berikutnya. Peneliti dan kolabolator membahas hal-hal apa saja yang menjadi masalah atau kendala pada pelaksanaan siklus  I serta pencapaian ketuntasan hasil belajar siswa.

2.      Siklus II

1)      Perencanaan

Berdasarkan hasil refleksi terhadap pembelajaran siklus I, peneliti merencanakan kegiatan perbaikan pembelajaran tema Indahnya Keragaman di negeriku sub tema 2 pada muatan pelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning berbantuan aplikasi Google Meet. Perencanaan pada siklus II pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

a)      Peneliti mengidentifikasi kekurangan pada pertemuan siklus I,

b)      Menyusun perbaikan-perbaikan pada pertemuan siklus II,

c)      Menyusun kisi-kisi soal dan instrumen penelitian. Instrumen yang digunakan adalah penilaian tes, serta lembar observasi,

d)      Menyusun silabus, RPP,

e)      Membuat lembar kerja siswa.

2)      Tindakan

Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembelajaran siklus II dengan model pembelajaran Discovery Learning berbantuan aplikasi Google Meet sebagai berikut:

a)      Peneliti menanyakan kabar siswa melalui Google Meet,

b)      Peneliti mengabsen siswa,

c)      Peneliti menyampaikan kepada siswa untuk selalu menjaga kebersihan dan selalu mematuhi protokol yang dianjurkan pemerintah agar terhindar dari Covid-19,

d)      Peneliti mengajak siswa untuk berdoa dan memberi semangat,

e)      Peneliti menjelaskan materi tema Indahnya Keragaman di Negeriku sub tema 2 pada muatan pelajaran IPA,

f)       Siswa mengamati gambar pada powerpoint yang disajikan peneliti lalu menentukan macam gaya yang bekerja beserta pengaruhnya terhadap benda,

g)      Peneliti menjelaskan materi tema Indahnya Keragaman di Negeriku sub tema 2 Indahnya Keragaman Budaya Negeriku pada muatan pelajaran IPA,

h)      Siswa mengamati gambar pada powerpoint yang disajikan peneliti lalu menentukan macam gaya yang bekerja beserta pengaruhnya terhadap benda,

i)       Siswa mengamati gambar-gambar kegiatan yang berkaitan dengan gaya listrik pada slide powerpoint,

j)       Peneliti membentuk kelompok-kelompok melalui Google Meet dan memberikan penjelasan tentang langkah-langkah penerapan model pembelajaran discovery learning secara daring,

k)      Siswa secara berkelompok diberi kesempatan untuk berdiskusi tentang manfaat gaya listrik,

l)       Siswa secara berkelompok menjelaskan manfaat gaya listrik,

m)   Peneliti meberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan tanggapan atau pertanyaan,

n)      Guru bersama dengan siswa memberikan kesimpulan atas materi pembelajaran yang dipelajari,

o)      Peneliti memberikan evaluasi sebagai bahan penilaian pemahaman siswa akan materi pembelajaran,

p)      Peneliti menutup pembelajaran dengan memberikan pesan-pesan moral dan tugas di rumah.

3)      Observasi

Peneliti dibantu kolaborator penelitian melakukan pengamatan terhadap tindakan dan hasil unjuk kerja siswa dan mencatat kendala yang dijumpai dalam pembelajaran dengan menggunakan instrumen yang telah disiapkan.

4)      Refleksi

Kegiatan refleksi dilakukan oleh peneliti bersama kolaborator, yang selanjutnya dapat dipergunakan sebagai pijakan untuk melakukan kegiatan pada tindakan siklus berikutnya. Peneliti dan kolabolator membahas hal-hal apa saja yang menjadi masalah atau kendala pada pelaksanaan siklus II serta pencapaian ketuntasan hasil belajar siswa.

B.     Pembahasan

Pembahasan hasil penelitian ini didasarkan pada hasil tindakan pada siklus I dan siklus II. Pembahasan hasil penelitian meliputi hasil tes dan nontes. Hasil tes siklus I dan siklus II berupa peningkatan hasil belajar siswa pada tema Indahnya Keragaman di Negeriku sub tema 1 pada muatan pelajaran IPA yang ditandai dengan meningkatnya nilai uji kompetensi siswa melalui model pembelajaran discovery learning berbantuan aplikasi Google Meet, sedangkan hasil notes diperoleh berdasarkan observasi selama kegiatan pembelajaran.

1.      Proses Pembelajaran

1)      Siklus I

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini, peneliti menerapkan model pembelajaran discovery learning berbantuan aplikasi Google Meet. Setelah diadakan perbaikan pembelajaran siklus I dapat dilihat dan dinyatakan adanya perubahan peningkatan keterampilan berfikir kritis, hal ini dapat dilihat perolehan rata-rata kelas yaitu 52 dengan kategori kurang kritis pada pra siklus meningkat menjadi 61 dengan kategori cukup kritis. Sedangkan pada hasil belajar siswa dari 15 siswa yang mencapai ketuntasan 9 siswa atau 60,00% pada pembelajaran pra siklus meningkat menjadi 11 siswa atau 73,33% pada pembelajaran siklus I.

Berdasarkan peningkatan yang baru 73,33% ketuntasan ini peneliti dibantu dengan kolaborator berusaha mencari dan mendapatkan beberapa kelemahan diantaranya penyajian hasil diskusi pada siklus I masih didominasi oleh siswa yang pandai dan berani, siswa terlihat pasif. Maka perlu adanya tindakan perbaikan dalam proses perbaikan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran discovery learning berbantuan aplikasi Google Meet dalam siklus berikutnya agar dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.

2)      Siklus II

Berdasarkan hasil pengamatan, pengolahan data hasil evaluasi, serta hasil diskusi dengan kolaborator selaku observer penelitian untuk menuntaskan hasil belajar siswa maka peneliti mengadakan proses perbaikan pembelajaran pada siklus II, kelanjutan siklus I dengan menerapkan model pembelajaran discovery learning berbantuan aplikasi Google Meet mengacu pada hasil refleksi pada pembelajaran siklus I. Perbaikan tindakan pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus II dari temuan-temuan kekurangan selama pelaksanaan proses perbaikan pembelajaran siklus I.

Perbaikan yang dilakukan pada siklus II, diantaranya dengan pembentukan kelompok yang lebih selektif, dengan memilih ketua kelompok pada setiap kelompok, serta memberikan penghargaan pada kelompok yang berhasil secara menarik, maka didapat peningkatan rata-rata keterampilan berfikir kritis yang semula pada siklus I mencapai 60,50 dengan kategori cukup kritis, menjadi 69,17 dengan kategori kritis pada siklus II. Sedangkan pada ketuntasan hasil belajar siswa yang semula pada Siklus I mencapai ketuntasan 73,33%, pada Siklus II dari 15 siswa yang mencapai ketuntasan sebanyak 13 siswa atau 86,67%. Hasil tersebut sudah mencapai indikator keberhasilan.

2.      Peningkatan Hasil Belajar Siswa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran tema Indahnya Keragaman di Negeriku pada muatan pelajaran IPA yang dilakukan dengan penerapan model pembelajaran discovery learning berbantuan aplikasi Google Meet mengalami peningkatan. Berikut ini tabel dan penjelasan peningkatan keterampilan berfikir siswa berdasarkan skor rata-rata mulai dari pra siklus hingga siklus II.

 

Tabel 3

Perbandingan Peningkatan Keterampilan Berfikir Siswa

No

Pembelajaran

Rata-rata

Kategori

1

Pra Siklus

52,33

Kurang Kritis

2

Siklus I

60,50

Cukup Kritis

3

Siklus II

69,17

Kritis

Sumber: data diolah 2021

 

Berikut ini tabel dan penjelasan peningkatan hasil belajar siswa berdasarkan pada persentase ketuntasan belajar mulai dari pra siklus hingga siklus II.

 

Tabel 4

Perbandingan Presentase Ketuntasan Belajar Siswa

No

Pembelajaran

Persentase Ketuntasan Belajar

Keterangan

Belum Tuntas

Tuntas

1

Pra Siklus

40,00%

60,00%

Rendah

2

Siklus I

26,67%

73,33%

Meningkat

3

Siklus II

13,33%

86,67%

Meningkat

Sumber: data diolah 2021

 

Secara rinci, perbandingan persentase ketuntasan belajar siswa dalam pembelajaran peneliti sajikan dalam bentuk grafik di bawah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1

Perbandingan Persentase Ketuntasan Belajar Siswa

 

Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa ketuntasan belajar siswa dari pra siklus sampai dengan siklus II mengalami peningkatan, hal itu terbukti dari meningkatnya hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar tersebut disebabkan siswa lebih antusias dan serius dalam mengikuti kegiatan pembelajaran pada tiap-tiap siklus. Ulasan di atas menunjukkan bahwa perbaikan pembelajaran telah berhasil, sehingga tidak perlu dilanjutkan pada siklus selanjutnya.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat diambil simpulan sebagai berikut: 1). Proses pembelajaran T tema Indahnya Keragaman di Negeriku sub tema 1 pada muatan pelajaran IPA dengan menggunakaan model discovery learning berbantuan aplikasi Google Meet, dari siklus I hingga siklus II mengalami peningkatan ke arah yang kondusif, menyenangkan dan bermakna bagi siswa kelas IV SDN 2 Limbangan Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal semester genap tahun pelajaran 2020/2021. 2). Melalui model discovery learning berbantuan aplikasi Google Meet dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN 2 Limbangan Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal semester genap tahun pelajaran 2020/2021 mencapai Ketuntasan Belajar Minimal (KBM) yaitu 70 minimal 85% dari jumlah siswa seluruhnya.

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Guru, Modul Pendidikan Latihan Profesi. (2011). Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya. UNesa Modul Pendidikan Latihan Profesi Guru, 1(2), 24–36. Google Scholar

 

Ilpaj, Salma Matla, & Nurwati, Nunung. (2020). Analisis pengaruh tingkat kematian akibat COVID-19 terhadap kesehatan mental masyarakat di Indonesia. Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial, 3(1), 16–28. Google Scholar

 

Kamiyati, Yuly, & Nurmayanti, Nopi. (2021). Motivasi Belajar Daring Pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Lokabmas Kreatif: Loyalitas Kreatifitas Abdi Masyarakat Kreatif, 2(2), 21–27. Google Scholar

 

Kristina, Marilin, Sari, Ruly Nadian, & Nagara, Erliza Septia. (2020). Model Pelaksanaan Pembelajaran Daring pada Masa Pandemi Covid 19 di Provinsi Lampung. Idaarah, 4(2), 200–209. Google Scholar

 

Mulyasa, Enco. (2004). Manajemen berbasis sekolah: konsep, strategi dan implementasi. Google Scholar

 

Mustikaningrum, Galih, Widiyanto, Widiyanto, & Mediatati, Nani. (2021). Application of The Discovery Learning Model Assisted by Google Meet to Improve Students’ Critical Thinking Skills and Science Learning Outcomes. International Journal of Elementary Education, 5(1). Google Scholar

 

Oktiani, Ifni. (2017). Kreativitas Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik. Jurnal Kependidikan, 5(2), 216–232. Google Scholar

 

Patonah, Imas, & Muasomah, Muasomah. (2021). Faktor Kurang Optimal Pembelajaran Daring pada Masa Pandemi di Desa Rowolaku, Kajen, Pekalongan, Jawa Tengah. JAMAIKA: Jurnal Abdi Masyarakat, 2(1), 115–125. Google Scholar

 

Pribadi, Slamet. (2020). Revitalisasi Pos Kamling Berbasis Komunitas Di Masa Pandemi COVID-19. Jurnal Keamanan Nasional, 6(2), 304–321. Google Scholar

 

Sari, Nofita, & Ahsani, Eva Luthfi Fakhru. (2020). Pelaksanaan Evaluasi Pembelajaran Berbasis Google Form Selama Masa Pandemi Pada Peserta Didik SD/MI. TERAMPIL: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar, 7(2), 107–118. Google Scholar

 

Sofyan, Yayan. (2018). Analisis Bauran Promosi pada PT. anugrah Parahyangan Jaya. Jurnal Ilmiah MEA (Manajemen, Ekonomi, & Akuntansi), 2(2), 161–178. Google Scholar

 

Widyanti, Rista Dwi Rahma. (2018). Pengembangan Media Animasi Flash Dengan Strategi Murder Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Pelajaran IPA Kelas V. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 6(8). Google Scholar

 

Wijaya, Etistika Yuni, Sudjimat, Dwi Agus, Nyoto, Amat, & Malang, U. N. (2016). Transformasi pendidikan abad 21 sebagai tuntutan pengembangan sumber daya manusia di era global. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika, 1(26), 263–278. Google Scholar

 

Wijaya, Hengki. (2019). Analisis Data Kualitatif: Sebuah Tinjauan Teori & Praktik. Sekolah Tinggi Theologia Jaffray. Google Scholar

 

Wiratsiwi, Wendri, & Mizan, Saeful. (2021). Training on the use of google classrooms and google forms for elementary school teachers in Singgahan District, Tuban. Community Empowerment, 6(5), 688–693. Google Scholar

 

Copyright holder:

Galih Mustikaningrum, Widiyanto, Nani Mediatati (2021)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: